Pembangunan Tandon Jadi Harapan Baru Cilegon Dalam Menghadapi Ancaman Banjir Jangka Panjang

Di tengah tantangan perubahan iklim dan pertumbuhan urbanisasi yang pesat, banjir telah menjadi masalah kronis yang dihadapi banyak daerah, termasuk Cilegon. 

Penanganan yang efektif terhadap bencana ini sangat diperlukan untuk melindungi masyarakat dan infrastruktur. Dalam konteks ini, usulan seorang warga mengenai pembangunan tandon air sebagai solusi jangka panjang menjadi relevan untuk dipertimbangkan.


Pembangunan Tandon Sebagai Solusi Strategis

Salah satu warga Cilegon, Pion, mengajak pemerintah kota untuk mengambil langkah-langkah strategis dan berkelanjutan dalam menghadapi banjir yang sering terjadi, khususnya di musim hujan ini.

Menurut pemberitaan dari krakataumedia.com (15/01/2026), Pion mengungkapkan agar pembangunan tandon sebagai tempat penampungan debit air diperbanyak untuk mencegah banjir makin parah.

Dalam pandangannya, solusi jangka panjang ini sangat penting untuk mengurangi risiko banjir di kawasan yang rentan. Dengan adanya tandon, diharapkan bisa mengurangi dampak banjir yang kerap melanda.

“Saya mengusulkan agar di wilayah rawan banjir dibangun tandon air yang dilengkapi alat penyedot air permanen,” ujar Pion.


Kondisi Lahan Resapan Air yang Memprihatinkan

Pion menjelaskan bahwa masalah banjir di Cilegon selain faktor cuaca juga diperparah dengan semakin berkurangnya lahan resapan air akibat alih fungsi lahan pertanian dan persawahan yang saat ini menjadi kawasan perumahan, perdagangan, dan industri.

Hal ini menimbulkan risiko yang lebih tinggi terhadap potensi banjir di wilayah-wilayah tersebut.

“Kondisi itu, diperparah dengan semakin berkurangnya lahan resapan air akibat alih fungsi lahan pertanian dan persawahan yang saat ini,” ujar Pion..


Kolaborasi Industri dan Regulasi yang Diperlukan

Lebih lanjut, Pion menekankan bahwa pembangunan tandon air tidak perlu sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tapi juga bisa dilakukan melalui kolaborasi dengan para pengembang perumahan dan pelaku industri di Cilegon

Pion menekankan bahwa upaya kolaborasi yang efektif akan dapat terwujud jika didukung oleh regulasi yang jelas dari pemerintah daerah. 

Pion pun menekankan persentase ideal penggunaan lahan di perumahan maupun industri “Untuk kawasan perumahan, sekitar 60 persen lahan digunakan untuk bangunan dan 40 persen untuk fasos dan fasum. Sementara kawasan industri, 40 persen terbangun dan 60 persen dialokasikan untuk fasos dan fasum,” katanya.

Ia memberikan contoh keberhasilan pembangunan tandon air di Perumahan Metro, yang dinilai mampu mengatasi masalah banjir tanpa menggunakan anggaran pemerintah. “Dulu wilayah itu sering banjir pada 2020. Setelah ada tandon air, sekarang relatif aman. Manfaatnya nyata,” ungkap Pion.


Refleksi yang Harus Dikritisi Publik

Bagaimana cara kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dapat dioptimalkan untuk menciptakan infrastruktur yang tahan terhadap banjir? Apakah masyarakat dilibatkan dalam perencanaan dan pembangunan tandon yang dapat melindungi mereka? Sudahkah pemerintah daerah cukup responsif terhadap kebutuhan mendesak ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk mendorong diskusi publik dan menemukan solusi yang tidak hanya efektif namun juga berkelanjutan dalam upaya mencegah bencana lebih lanjut di masa depan.


Sumber: krakataumedia.com (15/01/2026)
Produk Sponsor