Selama bulan puasa, umat Islam di seluruh dunia berusaha menahan diri dari berbagai godaan, termasuk makan dan minum.
Namun, di tengah kesucian bulan Ramadan yang penuh berkah ini, satu hal yang tak kalah menarik perhatian adalah pidato-pidato tokoh politik.
Satu pernyataan di media sosial baru-baru ini mengungkapkan bagaimana rakyat merespons fenomena ini dengan nada satir yang menggelitik.
Godaan Terbesar di Bulan Puasa Menurut Netizen
Seorang pengguna Facebook dengan nama Sigit Rahardjo, pada Selasa, 17 Februari 2026, mengunggah sebuah postingan yang menarik perhatian banyak orang.
Dalam pernyataannya, ia menulis,
“Godaan terbesar di bulan puasa:
- Makan & minum ❌
- Dengar pidato Prabowo ✅.”
Ungkapan ini tidak hanya menggambarkan kondisi psikologis masyarakat yang tengah berpuasa, tetapi juga menunjukkan kelelahan mereka terhadap pidato-pidato yang dianggap tidak relevan.
Postingan tersebut langsung dibanjiri komentar dari netizen, dengan lebih dari 800 tanggapan yang sebagian besar menunjukkan kesepakatan.
Dalam komentar-komentar itu, terlihat jelas bahwa banyak orang merasa muak dengan kebijakan dan pernyataan yang dinilai tidak masuk akal.
Tanggapan Rakyat yang Membanjiri Kolom Komentar
Salah satu komentar yang menarik perhatian datang dari akun Angkasa Mitra Furnituree yang menuliskan, “Iya sih terlalu membual dan banyak bohongnya 🤭.” Ungkapan ini jelas menunjukkan kekecewaan dan sinisme terhadap apa yang dianggap sebagai kebohongan publik yang terus menerus disampaikan tanpa substansi.
Netizen lain, dengan nama akun Fourth wisdom, menambahkan, “Dlu emosi kesel.. Skrg kek ketawa aja klo dia pidato mungkin aku udh mulai muak.” tulisnya. Pernyataan ini mencerminkan transisi dari kemarahan menjadi tawa, yang menandakan bahwa banyak orang sudah terlalu lelah untuk bereaksi dengan serius terhadap pernyataan yang dianggap tidak berisi.
Akun Hartek Tho juga menyampaikan pendapatnya dengan tegas. Ia berkata, “Coba Prabowo beserta Menteri sekiranya gak terlalu penting, ada faedah buat rakyat dan positif buat masyarakat,,, mending diem dulu dah gak usah pidato atau bikin pernyataan pernyataan kontroversi ngibul nya, stop dulu pidato ngibul nya,,, rakyat mau fokus ibadah.”
Komentar ini menunjukkan harapan masyarakat agar para pemimpin lebih memperhatikan urusan yang benar-benar berdampak positif bagi rakyat ketimbang terus menerus membuat pernyataan yang kontroversial.
Sementara itu, akun bernama Tuti Agi menambahkan, “Dijamin tidak lolos dari ujian kesabaran.” Ini adalah refleksi dari perasaan frustrasi yang dirasakan oleh banyak orang yang merasa terjebak antara kewajiban beribadah dan mendengarkan pidato yang tidak memuaskan.
Di sisi lain, Ilout Marcel menanggapi dengan humor. Ia berkomentar, “Benar sekali,, semoga tangan dan mulut ini bisa menahan diri utk tidak nyumpahin nya biar puasaku nt tdk batal 😁😁😂😂.” ungkapnya.
Komentar ini menampilkan sisi lain dari masyarakat yang mencoba menghadapi situasi dengan cara yang lebih ringan meskipun di dalam hati mereka menyimpan rasa jenuh yang mendalam.
Bentuk Ketidakpuasan Rakyat atas Kebijakan Pemerintah
Melihat respons netizen terhadap pernyataan Sigit Rahardjo, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada ketidakpuasan yang mendalam di kalangan masyarakat terhadap kebijakan dan pernyataan yang dianggap tidak realistis oleh para pemimpin.
Bulan puasa seharusnya menjadi waktu refleksi dan peningkatan spiritual, namun banyak yang merasa terganggu oleh pidato yang tidak relevan dan sering kali kontroversial.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh harapan, masyarakat justru merasa tertekan dengan kenyataan politik yang berlarut-larut ini.
Kekecewaan yang diekspresikan melalui komentar-komentar tersebut adalah cerminan dari keresahan yang ada di benak rakyat, yang ingin fokus pada ibadah dan kehidupan sehari-hari tanpa gangguan dari hiruk-pikuk politik.
Kesimpulannya, ungkapan satir ini adalah bentuk ekspresi yang sah dari rakyat yang sudah terlalu muak dengan kebijakan yang tidak berpihak pada mereka.
Ini adalah panggilan untuk para pemimpin agar lebih mendengarkan suara rakyat, terutama di bulan yang suci ini, di mana setiap individu berusaha untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Sumber: Postingan Facebook @SigitRahardjo, 17 Februari 2026