Kualitas Udara Cilegon Pasca Erupsi Anak Krakatau Masuk Kategori Sedang, Tetap Waspada

📌 Ringkasan Berita:
  • Kualitas udara di Cilegon setelah erupsi Gunung Anak Krakatau masih dalam kategori sedang, dengan mayoritas indikator berwarna hijau.
  • Particulate Matter (PM) 2,5 menunjukkan peningkatan, yang mengindikasikan adanya debu akibat aktivitas erupsi, namun paparan abu vulkanik ke daratan Cilegon tergolong terbatas.
  • Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar, serta mengikuti informasi resmi terkait kondisi kualitas udara dan aktivitas GAK.

Kualitas udara di Kota Cilegon setelah erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) ternyata masih tergolong sedang.

Pemantauan Kualitas Udara

Mengutip pemberitaan dari faktabanten.co.id pada 10/09/2026, kondisi ini terpantau berdasarkan hasil dari Air Quality Monitoring System (AQMS) yang berada di Merak.

Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Deny Yuliandi, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan stasiun pemantau kualitas udara menunjukkan mayoritas indikator masih berwarna hijau.

Artinya, udara di Cilegon secara umum tetap aman.

Namun, ada satu parameter yang memperlihatkan perubahan, yaitu Particulate Matter (PM) 2,5 atau debu.

Parameter ini menunjukkan indikator warna biru, yang berarti kualitas udara sudah masuk kategori sedang.

“Pasca erupsi abu vulkanik GAK, Memang terjadi kenaikan debu yang ditimbulkan oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sehingga kondisi udara di Cilegon katagori biru atau katagori sedang,” kata Deny, Kamis (10/9/2026).

Aktivitas Erupsi dan Dampaknya

Menurut Deny, peningkatan debu ini ada kaitannya dengan aktivitas erupsi GAK yang masih berlangsung.

Meski begitu, paparan abu vulkanik yang sampai ke daratan Cilegon tergolong terbatas.

Deny menyampaikan bahwa udara di pusat Kota Cilegon masih terjaga baik berkat kondisi alam, khususnya arah pergerakan angin.

Berdasarkan pemantauan, massa udara saat ini cenderung mengarah ke Samudra Hindia dan wilayah Lampung, bukan ke pusat Kota Cilegon.

“Ini yang menyebabkan paparan abu vulkanik lebih banyak jatuh ke wilayah barat dan utara (perairan-red) sehingga tidak membawa dampak buruk yang signifikan ke daratan Cilegon,” jelas Deny.

Peringatan untuk Masyarakat

Walaupun kualitas udara masih di level sedang, DLH tetap mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada, terutama saat beraktivitas di luar.

Deny pun mengimbau agar masyarakat menggunakan masker dan kacamata untuk melindungi diri dari debu.

“Kita menghimbau agar masyarakat tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menggunakan kacamata untuk menghindari iritasi debu dan meminimalisir kegiatan di luar lapangan jika tidak mendesak selama proses erupsi masih berlangsung,” sambungnya.

Penggunaan masker dan kacamata ini penting banget supaya risiko paparan debu vulkanik bisa berkurang, terutama bagi yang harus keluar rumah.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tetap update dengan informasi resmi mengenai aktivitas GAK dan kondisi kualitas udara dari pemerintah dan instansi terkait.

Sekarang ini, Pemerintah Kota Cilegon melalui DLH terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala.

Data pemantauan diperiksa setiap jam untuk memastikan perkembangan kondisi udara di Cilegon.

Pemantauan ini juga mempertimbangkan perubahan aktivitas vulkanik serta arah dan kecepatan angin yang dapat mempengaruhi sebaran abu vulkanik.

“Pelaporan status kualitas udara akan terus diperbarui mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik dan arah angin,” pungkasnya.

Jadi, guys, meski situasinya masih dalam kategori sedang, tetap jaga kesehatan kalian ya! Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: faktabanten.co.id (10/09/2026)
Featured Image
Berita

Judul Artikel