- Pulau Sangiang menjadi lokasi belajar bagi anak muda Cilegon, mengangkat isu konflik agraria dan ketidakadilan akses energi.
- Selama lebih dari 30 tahun, konflik agraria di Pulau Sangiang terus berlanjut, mengakibatkan minimnya akses pendidikan dan pelayanan dasar bagi warga.
- Pelatihan tentang transisi energi di pulau ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap krisis iklim dan pentingnya keadilan energi.
Pulau Sangiang jadi tempat belajar yang unik buat banyak anak muda di Cilegon.
Melansir pemberitaan dari bantenraya.com pada 11/07/2026, pulau kecil ini bukan cuma menawarkan pemandangan laut dan hutan tropis, tapi juga realita tentang konflik agraria, ketidakadilan akses energi, dan ancaman krisis iklim.
Konflik Agraria yang Berkepanjangan
Pemilihan Pulau Sangiang bukan tanpa alasan, karena selama lebih dari tiga dekade, konflik agraria di sana belum menemukan solusi yang memberikan kepastian bagi warga.
Konflik yang terus-menerus ini mengakibatkan pelayanan dasar yang terbatas, seperti hilangnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta akses listrik yang belum merata.
Ketimpangan Energi di Sangiang
Ironisnya, dari perbukitan Pulau Sangiang, terlihat cerobong-cerobong PLTU Suralaya yang menjulang tinggi di seberang laut.
Listrik dihasilkan dalam jumlah besar, tapi masyarakat yang tinggal paling dekat masih belum mendapatkan akses energi yang layak.
Ketimpangan ini mencerminkan masalah keadilan energi yang ada di Banten.
Pelatihan dan Kesadaran Energi
Pelatihan dengan tema transisi energi ini ngajarin peserta bahwa krisis iklim bukan hanya soal suhu bumi yang naik.
Ini juga berpengaruh pada hilangnya ruang hidup, risiko tenggelamnya pulau kecil akibat naiknya air laut, hingga memburuknya kualitas lingkungan yang akan diwariskan ke generasi mendatang.
Dani Setiawan dari Rhizoma Indonesia menyebut generasi muda kini menghadapi ancaman yang semakin besar karena ketergantungan pada energi fosil.
“Nasib generasi terus digerogoti oleh masifnya emisi yang dihasilkan dari ketergantungan pada energi fosil yang tetap diproduksi demi kepentingan oligarki. Dari ujung barat Pulau Jawa, orang muda Cilegon berupaya membangun cara pandang baru untuk menjaga kehidupan mereka dan keberlanjutan generasi setelahnya,” kata Dani.
Menurut Dani, pendidikan tentang transisi energi harus lebih dari sekadar seremoni.
Pelatihan semacam ini perlu menjangkau lebih banyak orang, khususnya mereka yang paling terpengaruh oleh krisis iklim dan pencemaran lingkungan.
“Ini bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan investasi bagi kehidupan. Ketika kebijakan publik belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan lingkungan dan masyarakat, penguatan kapasitas warga menjadi langkah penting untuk menjamin masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Cholis dari WALHI Jakarta juga menekankan pentingnya kemampuan advokasi di kalangan anak muda.
Dia bilang, pemahaman tentang transisi energi harus diimbangi dengan kemampuan untuk mengawal kebijakan agar perubahan yang diharapkan benar-benar berpihak pada masyarakat yang selama ini terabaikan.
Intinya, pelatihan di Pulau Sangiang jadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan generasi muda dalam menghadapi krisis iklim dan keadilan energi.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: bantenraya.com (11/07/2026)