
Gengs, baru-baru inii Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mengemukakan pendapatnya tentang sekolah catur yang katanya bisa jadi solusi untuk mengurangi ketergantungan anak-anak pada handphone.
Tapi, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada beberapa hal yang perlu kita cermati dari pernyataannya yang terkesan optimis ini. Apakah ini solusi jangka panjang, atau sekadar gimmick aja?
Apreasiasi dari Wagub
Menyimak pemberitaan dari rubrikbanten.com pada 09/05/2026, Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mengapresiasi hadirnya sekolah catur untuk pelajar dan anak-anak.
Dia berpendapat kalau catur bisa mengasah kecerdasan dan mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap penggunaan telepon genggam. “Bermain catur menghindarkan anak-anak berlama-lama dengan handphone yang membuat mata sakit, silaturahmi berkurang, dan lainnya. Bermain catur seperti kuis, mengasah otaknya, menjadikan anak-anak cerdas,” ujar Dimyati.
Oke, kita semua setuju bahwa anak-anak perlu berjarak dari layar handphone, tapi apa catur adalah satu-satunya solusi?
Gimana dengan aktivitas lain yang bisa melibatkan mereka secara lebih interaktif dan menyenangkan?
Catur memang keren, tapi jangan sampai kita jadi terjebak dalam satu solusi yang terlihat bagus di permukaan tapi tidak benar-benar mengubah kebiasaan anak-anak.
Catur Mampu Mengasah Kecerdasan
Dimyati percaya kalau bermain catur itu melatih berbagai kemampuan, seperti berpikir jangka panjang dan membuat keputusan. Tapi, apakah kita sudah lihat bukti nyata dari hal ini?
Catur memang bisa mengasah otak, tapi kita juga harus pertimbangkan kegiatan lain yang nggak kalah pentingnya, seperti olahraga atau seni. Jangan sampai sekolah catur ini jadi semacam proyek yang hanya terlihat bagus di kertas tanpa ada dampak signifikan di lapangan.
Turnamen Catur, Komitmen atau Seremonial?
Selain itu, ada info tentang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur yang akan digelar di Banten. Ini diharapkan bisa menjadikan catur lebih populer di kalangan pelajar. Amin Lukman, Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia, menyebutkan beberapa turnamen yang akan diadakan sebagai bagian dari persiapan. “Ada beberapa turnamen nasional juga yang akan diikuti di Banten, Jakarta, dan Bandung,” ujarnya. Tapi, pertanyaannya, apakah ini hanya acara seremonial untuk menunjukkan ada kegiatan, atau ada strategi yang jelas untuk membina atlet catur ke depannya?
Jadi, mari kita renungkan, apakah kebijakan ini benar-benar menjawab masalah yang ada, atau hanya menambah satu lagi kegiatan yang disebut "positif" tanpa ada dampak nyata?
Menurut kamu gimana tentang kebijakan ini? Apakah sudah pas atau masih banyak bolongnya? Yuk, diskusi atau share pendapat kamu!
Sumber: rubrikbanten.com (09/05/2026)