
Di tengah gempita industri yang terus berkembang, usaha mikro di Kota Cilegon menghadapi tantangan yang kian pelik.
Sementara harapan untuk memajukan ekonomi lokal mengemuka, usaha kecil ini justru terjebak dalam kondisi rentan yang mengancam keberlangsungan mereka.
Fenomena ini menyoroti sebuah paradoks: di balik potensi dan dukungan, banyak usaha kecil yang justru berisiko gulung tikar.
Kerentanan Usaha Super Mikro
Menurut penjelasan dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Cilegon, Didin S Maulana, usaha super mikro, yang meliputi warung-warung kecil, adalah jenis usaha yang paling rentan mengalami kebangkrutan.
Mengutip pemberitaan dari bantennews.co.id (08/01/2026), ia menjelaskan bahwa banyak dari usaha ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan modal yang terbatas.
“Usaha super mikro atau ultra mikro. Itu yang paling rentan karena modalnya kepake untuk kebutuhan lainnya,” tutur Didin dalam penjelasannya.
Bantuan dan Pendampingan dari Pemerintah
Pemerintah Kota Cilegon berupaya memberikan dukungan bagi pelaku usaha dengan menyediakan bantuan pinjaman dana melalui UPT Penyaluran Dana Bergulir. Modal yang ditawarkan mencapai Rp3 juta, dengan rata-rata pinjaman sebesar Rp1,5 juta tanpa bunga. Namun, Didin mengakui bahwa dengan modal yang kecil ini, seringkali peminjam mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban angsuran.
“Angsuran dari para peminjam itu macet lantaran modalnya habis untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga usahanya tak lagi berjalan,” jelasnya mengenai tantangan yang dihadapi para pelaku usaha kecil.
Strategi Pemulihan Usaha
Untuk mendorong para kreditur agar tetap berjalan, Dinas Koperasi dan UKM Cilegon mengambil langkah proaktif dalam memberikan pendampingan. Mereka juga sering memberikan modal tambahan untuk menyokong usaha yang terancam mati. “Kita punya pegawai pendamping di setiap kelurahan agar dia tetap berusaha, bantu pemasarannya,” ujar Didin, menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi pelaku usaha.
Inisiatif ini mencerminkan usaha pemerintah untuk tidak hanya memberikan dana, tetapi juga bimbingan yang diperlukan agar usaha mikro dapat bertahan dalam kondisi yang sulit.
Menyelami Tantangan di Balik Dukungan
Namun, pertanyaannya adalah, apakah bantuan ini cukup untuk mengatasi masalah mendasar yang dihadapi usaha mikro?
Dengan banyaknya kendala yang harus dihadapi, seperti modal yang cepat habis dan kesulitan dalam menjangkau pasar, tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro belum sepenuhnya terjawab.
Apakah obligasi untuk tetap membayar angsuran akan menghambat mereka dari investasi lebih lanjut dalam usaha mereka?
Keraguan ini mengundang perhatian publik untuk mempertimbangkan lebih jauh: di mana letak keberhasilan program ini jika usaha super mikro tetap terjebak dalam siklus utang dan ketidakpastian?
Bagaimana pemerintah dapat lebih efektif dalam memberikan dukungan yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berkelanjutan?
Sumber: bantennews.co.id (08/01/2026)