Banjir yang melanda beberapa wilayah di Cilegon pada Minggu, 11 Januari 2026, kembali mengingatkan kita akan pentingnya penanganan yang tidak hanya bersifat sementara.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang lebih besar jika pemerintah dan pihak terkait tidak segera mengambil langkah yang tepat.
Dalam situasi yang mengkhawatirkan ini, Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Cilegon memberikan kritik tajam terhadap cara penanganan banjir yang selama ini dilakukan.
Harapan untuk Solusi Jangka Panjang
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram resmi mereka, @forumbemcilegon, Forum BEM Cilegon menegaskan bahwa solusi untuk penanganan banjir harus berorientasi jangka panjang. “Kami menilai bahwa penanganan banjir perlu diarahkan pada solusi jangka panjang yang terencana, terukur, dan berkelanjutan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun,” tulis mereka.
Melalui pernyataan ini, Forum BEM juga menyampaikan bahwa upaya mitigasi hendaknya dilakukan secara menyeluruh.
Hal ini mencakup perbaikan tata kelola lingkungan, sistem drainase, serta pengendalian aktivitas yang berpotensi memperparah banjir, seperti galian tambang yang merajalela.
Pentingnya Evaluasi Distribusi Bantuan
Dalam situasi darurat seperti ini, Forum BEM Cilegon juga mendorong perlunya evaluasi terhadap mekanisme pendistribusian logistik dan bantuan pangan.
Mereka menekankan bahwa bantuan harus lebih tepat sasaran, merata, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak. “Hal ini penting untuk mencegah persoalan lanjutan, termasuk gangguan kesehatan yang dialami warga akibat keterlambatan atau ketidaksesuaian bantuan,” jelas mereka.
Warga Minta Bantuan Salurkan Langsung Ke Rumah
Lebih lanjut, Forum BEM Cilegon turut membagikan tangkapan layar curahan hati seorang anak yang ibunya menjadi korban banjir, yang menambah keprihatinan atas musibah ini.
Dari pesan yang dibagikan di media sosial, anak tersebut menceritakan bagaimana keluarganya kesulitan mendapatkan logistik pangan. “Salam kenal ya mbak. Mohon maaf ya mbak kalau bagi-bagi nasi mending door to door, orang tua saya suka ga kebagian apa-apa mbak,” tulisnya.
Tak berhenti disitu, warga tersebut menuliakan alasannya, apabila logistik ditampung dan di distribusikan melalui RT, orang tuanya seringkali tak tersentuh oleh bantuan.
Ia pun melanjutkan "Nyampe banjir kmrn saking kecapean ga ada yg ngasih makan darahnya sampe 190. Baru pulang rawat inap mbak skrng udah banjir Iagi " tuturnya.
Pesan ini memberikan gambaran betapa sulitnya situasi yang dihadapi warga saat bencana melanda. Dapur terendam air, pemenuhan kebutuhan dasar tidak bisa dilakukan secara mandiri seperti biasanya.
Harapan Forum BEM Cilegon kepada Pemangku Kepentingan
Forum BEM Cilegon berharap agar seluruh pemangku kepentingan dapat meningkatkan koordinasi dan kehadiran Pemerintah secara nyata. “Kami berharap penanganan banjir tidak hanya bersifat respons darurat, tetapi benar-benar menjadi solusi yang melindungi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” ungkap mereka.
Dengan kritik ini, jelas bahwa penanganan banjir di Cilegon memerlukan perhatian lebih dari semua pihak. Jika tidak, kejadian serupa akan terus menghantui masyarakat, dan menjadi beban langganan yang harus ditanggung.
Adalah tanggung jawab kita semua untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil tidak hanya bersifat temporer, tetapi benar-benar berkelanjutan menuju solusi permanen.
Sumber: Forum BEM Cilegon, Instagram @forumbemcilegon, 12 Januari 2026.