Persoalan Kejahatan yang Berbeda
Reza menyoroti adanya perbedaan mencolok dalam motif yang terlihat pada kasus pembunuhan anak dan tuduhan pencurian yang melibatkan terduga pelaku yang sama. Dalam insiden pembunuhan yang terjadi pada Desember 2025, tidak ada indikasi barang berharga yang hilang, sementara terduga tersebut ditangkap saat beraksi di rumah seorang anggota DPR, menunjukkan pola yang tidak konsisten. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang keaslian tuduhan yang diarahkan kepada orang yang sama.Kekerasan dalam Kasus Pembunuhan
Insiden pembunuhan itu dilaporkan melibatkan tingkat kekerasan yang sangat tinggi, dengan sejumlah luka tusuk dan memar pada tubuh korban. Menurut Reza, pengalaman kekerasan yang ekstrem seharusnya memberikan dampak psikologis yang signifikan pada pelaku, sehingga berpotensi membuatnya menghindari tindakan kriminal sesudahnya. Perilaku kembali beraksi dalam waktu dekat setelah peristiwa kekerasan mencolok menunjukkan inkonsistensi perilaku yang menimbulkan keraguan akan tuduhan yang dikenakan.Tantangan dalam Pembuktian
Kepolisian cepat mengumumkan bahwa pelaku pencurian juga menjadi pelaku pembunuhan, tetapi Reza mempertanyakan keabsahan kesimpulan tersebut. Belum ada bukti ilmiah yang jelas, seperti kecocokan DNA, sidik jari, atau rekaman CCTV yang bisa memperkuat keterkaitan antara kedua kasus. Ketiadaan bukti konkret ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menarik kesimpulan di tengah situasi yang ramai.Pentingnya Menghindari Pengakuan Palsu
Reza juga mengingatkan bahwa pengakuan yang diperoleh dalam kondisi tekanan mental tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menjatuhkan tuduhan. Larangan terhadap pengakuan yang mungkin dihasilkan dari tekanan—dikenal sebagai coerced false confession—harus menjadi perhatian serius dalam proses penegakan hukum. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan sistemik yang bisa merugikan individu dalam proses hukum.Sumber: www.bantennews.co.id (04/01/2026)