Menyoal Fenomena Banjir Langganan di Cilegon, Benarkah Karena Faktor Cuaca Ekstrem?

Fenomena banjir di Kota Cilegon dalam beberapa tahun terakhir makin sering dirasakan warga. Bukan cuma saat hujan ekstrem, tapi hujan dengan intensitas sedang pun kini sudah cukup bikin genangan di banyak titik. 

Memasuki awal tahun 2026, puncaknya per 02 Januari, kondisi ini kembali terulang dan memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat, sebenarnya apa saja faktor utama yang bikin Cilegon langganan banjir?


Lahan Resapan Air Kian Berkurang

Pertumbuhan kawasan industri, pergudangan, dan perumahan di Cilegon berjalan sangat cepat. Sayangnya, laju pembangunan ini tidak diimbangi dengan perlindungan lahan resapan air. Sawah, rawa, kebun, hingga lahan terbuka yang dulu berfungsi menyerap air hujan, kini berubah jadi bangunan permanen berlapis beton.

Dampaknya terasa jelas. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah malah langsung mengalir di permukaan, membebani saluran drainase dan sungai. Inilah salah satu alasan kenapa banjir kini bisa muncul meski hujan tidak terlalu deras.


Sistem Drainase yang Terbatas

Banyak sistem drainase di Cilegon dibangun bertahun-tahun lalu, saat kondisi wilayah dan jumlah penduduk belum sepadat sekarang. Ukuran saluran yang kecil, ditambah minimnya perawatan rutin, membuat drainase tidak sanggup menampung debit air saat hujan turun.

Di lapangan, kondisi makin parah karena endapan lumpur dan tumpukan sampah yang mempersempit aliran. Akibatnya, air mudah meluap ke jalan dan permukiman, bahkan di kawasan yang sebelumnya jarang banjir.


Kondisi Sungai yang Memburuk

Sungai-sungai di Cilegon juga mengalami masalah serius. Pendangkalan akibat sedimentasi, penyempitan alur, serta aktivitas manusia di bantaran sungai membuat kapasitas sungai terus menurun.

Bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan sungai mempersempit ruang aliran air. Saat hujan deras atau kiriman air dari hulu meningkat, sungai tidak lagi mampu menampung debit, dan air pun meluap ke wilayah sekitar.


Pengelolaan Sampah yang Kurang Efektif

Masalah klasik yang belum tuntas hingga sekarang adalah sampah. Masih banyak sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan dan akhirnya masuk ke selokan, gorong-gorong, hingga sungai.

Ketika hujan turun, sampah-sampah ini menjadi penghambat utama aliran air. Saluran yang seharusnya mengalirkan air dengan lancar justru tersumbat, sehingga banjir pun lebih cepat terjadi, terutama di kawasan padat penduduk.


Curah Hujan yang Semakin Tidak Menentu

Memasuki musim hujan akhir 2025 hingga awal 2026, pola curah hujan di Cilegon terasa makin sulit diprediksi. Hujan bisa turun dalam durasi singkat, tapi dengan intensitas tinggi.

Kondisi ini membuat sistem drainase dan sungai yang kapasitasnya terbatas langsung kewalahan. Air turun dalam jumlah besar dalam waktu cepat, sementara kemampuan mengalirkan dan menyerap air tidak sebanding.


Kurangnya Integrasi Tata Ruang dan Pengendalian Banjir

Faktor lain yang tak kalah penting adalah lemahnya integrasi antara perencanaan tata ruang dan upaya pengendalian banjir. Pembangunan sering berjalan sektoral, tanpa mempertimbangkan dampak hidrologi secara menyeluruh.

Akibatnya, muncul kawasan baru tanpa sistem drainase memadai, minim kolam retensi, dan tidak terhubung optimal dengan jaringan air utama. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat banjir di Cilegon bukan lagi kejadian insidental, tapi risiko yang terus berulang.


Harapan Tata Kelola yang Terintegrasi

Melihat berbagai faktor di atas, banjir di Cilegon jelas bukan masalah tunggal. Ia adalah akumulasi dari persoalan lingkungan, infrastruktur, perilaku, dan tata kelola wilayah yang saling terkait. Tanpa pembenahan menyeluruh dan konsisten, potensi banjir akan terus menghantui warga setiap musim hujan tiba.

Produk Sponsor