Cuaca ekstrem yang melanda Cilegon kembali menimbulkan permasalahan klasik yang mengganggu kehidupan sehari-hari warga. Banjir melanda sejumlah titik, menciptakan kekhawatiran baru tentang manajemen infrastruktur dan respon pemerintah terhadap ancaman yang berulang ini.
Ketika curah hujan meningkat, pertanyaan tentang keseriusan pemerintah kota dalam menangani masalah ini tak bisa dihindari.
Banjir Melanda Berbagai Wilayah
Dari pemberitaan terbaru, hujan deras yang turun pada hari Minggu (11/1/2026) menyebabkan banjir di berbagai lokasi di Kota Cilegon. Mengutip halaman bantennews.co.id, titik banjir terparah terpantau di Jalan Raya Anyer–Ciwandan, yang membuat arus lalu lintas tersendat hingga mendekati lumpuh.
Genangan air yang cukup tinggi membuat banyak pengendara, baik roda dua maupun empat, terjebak dalam banjir. Beberapa dari mereka terpaksa memutar balik, sementara yang lainnya memilih untuk menunggu hingga air surut.
Kondisi Jalan Alternatif Terpengaruh
Selain Jalan Raya Anyer–Ciwandan, Jalan Lingkar Selatan (jalur alternatif penting bagi kendaraan logistik dan pekerja) juga mengalami nasib yang sama. Banjir yang melanda semakin memperparah kemacetan dan mengganggu rutinitas masyarakat sehari-hari.
Kondisi ini menunjukkan adanya masalah mendasar pada sistem drainase Kota Cilegon, yang tampaknya belum tertangani secara memadai. Sejumlah ruas jalan protokol di pusat kota juga tidak luput dari genangan, menandakan bahwa upaya penanganan banjir masih jauh dari harapan.
Suara Kekecewaan Warga
Warga mulai mempertanyakan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon dalam mengatasi permasalahan banjir ini. Salah satu warga, Herman dari Kecamatan Ciwandan, menyatakan kekecewaannya, “Katanya Pemkot Cilegon bekerja, nyatanya banjir terus.”
Keluhan yang berulang ini menunjukkan bahwa warga telah lama merasa frustrasi dengan kurangnya solusi konkret. Mereka mendesak Pemkot Cilegon untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan infrastruktur yang ada, agar tidak ada lagi banjir yang menjadi masalah rutin di daerah tersebut.
Pertanyaan Kritis atas Implementasi
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mengenai apakah Pemkot Cilegon benar-benar mendengarkan suara warganya? Ketidakpuasan yang terus mengemuka bisa jadi mencerminkan kurangnya aksi nyata dari pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung dan penanggung jawab kesejahteraan rakyat.
Apakah kita akan terus melihat banjir sebagai ancaman musiman, ataukah ada harapan untuk penanganan yang lebih proaktif dan berkelanjutan?
Suara masyarakat perlu menjadi landasan bagi setiap kebijakan yang diambil, bukan sekadar formalitas tanpa tindakan nyata. Siap mendesak perubahan yang lebih baik demi masa depan yang lebih aman?
Sumber: bantennews.co.id (11/01/2026)