Rabeg Cilegon Kirim 25 Kg Daging ke Belanda dari Kecamatan Ketileng

📌 Ringkasan Berita:
  • Rabeg T’Eng di Cilegon bisa menghabiskan 25 kg daging sapi dalam sekali produksi dan akan diperkenalkan ke Belanda.
  • Owner Rabeg T’Eng, Heriyah, memilih daging sapi sebagai bahan baku agar bisa dinikmati oleh semua kalangan dan memastikan kualitas serta kebersihan dalam proses produksinya.
  • Heriyah terus mengembangkan produk dan pemasaran Rabeg T’Eng, yang kini sudah menjangkau wilayah Banten dan akan go international ke Belanda.

Rabeg T’Eng yang ada di Kecamatan Ketileng, Kota Cilegon, bisa menghabiskan 25 kilogram daging sapi dalam sekali produksi.

Produksi Hebat Menuju Belanda

Melansir pemberitaan dari bantenraya.com pada 13/08/2026, produk Rabeg T’Eng semakin populer karena akan diperkenalkan ke Belanda oleh Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Cilegon, Nur Kusuma Ngarasati, melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Belanda.

Owner Rabeg T’Eng, Heriyah, mengungkapkan bahwa dia menghabiskan 25 kg daging sapi dalam satu kali produksi, yang didapat dari pasar di Kota Cilegon.

“Alhamdulillah sekali produksi bisa 25 kg daging sapi, tapi tergantung permintaan pemesanan juga,” katanya, Kamis 13 Agustus 2026.

Ibu Heriyah menjelaskan bahwa daging sapi yang digunakan berasal dari rumah potong hewan yang sudah memiliki sertifikat halal.

“Untuk daging sapinya kami dapat dari pasar, tapi yang rumah potong hewannya sudah lengkap sertifikasi halalnya,” ujarnya.

Pemilihan Bahan Baku yang Unik

Beda dari rabeg lainnya, dia memilih daging sapi agar bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Memang biasanya rabeg itu dari daging kambing atau kerbau, tapi saya sengaja memilih daging sapi supaya bisa dinikmati buat semua kalangan,” ungkapnya.

Sejak mulai usaha rabeg pada tahun 2020, Heriyah berkomitmen untuk memilih bahan baku dan proses produksi yang higienis.

Produksi Rabeg T’Eng juga harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan sepatu boat.

“Bahan baku kami berkualitas dan kenapa produksi kami memakai APD? karena untuk menjaga kualitas dan higienis olaharan rabeg di dapur produksi kami,” jelasnya.

Inovasi dan Pengembangan Terus Berlanjut

Rabeg kemasan miliknya dapat bertahan selama 1 tahun 2 hari, sedangkan olahan bumbu masakannya bertahan selama 6 bulan.

Selama proses produksinya, Heriyah terus mengembangkan cita rasa dan proses pemasarannya agar lebih baik.

Perjalanan usahanya pun didapatkan dari pengalaman bersama Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop-UKM) Kota Cilegon.

“Gabung di Dinkop dari 2023, ikut inkubasi selama 6 bulan. Dari hasil pelatihan sama Dinkop ini, kami selalu tuangkan pada usaha kami, dan terus belajar memperbaiki olahan rabeg jadi lebih baik,” tuturnya.

Kalau ada kendala dalam proses produksi, Heriyah akan menghadapinya dengan tenang supaya tidak mempengaruhi usahanya.

“Kalau kendala itu pasti ada saja, tapi bagaimana kita menyikapinya untuk menjadi acuan kita kedepannya menjadi lebih maju lagi,” terangnya.

Selain rabeg, Heriyah juga memproduksi gegetas, sabun cuci piring, cuci baju, cuci kendaraan, dan lain-lain.

Pemasaran produk Rabeg T’Eng kini tidak hanya terbatas di Cilegon, bahkan produknya akan dikenalkan ke Belanda.

“Pemasaran produksi Rabeg T’Eng ini ada di daerah Cilegon, Serang, dan wilayah Banten lain. Alhamdulillah saya senang produk kami bisa dibawa ke Belanda nanti,” tutupnya.

Jadi, bagaimana menurut kamu tentang perjalanan Rabeg T’Eng yang bisa go international ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: bantenraya.com (13/08/2026)