Ustadz Felix Siauw baru-baru ini mengungkapkan pandangannya melalui akun threads @felix.siauw mengenai kesiapan Prabowo Subianto untuk menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat.
Dalam unggahannya, Felix menyarankan agar Prabowo mengirimkan wakil presiden muda Indonesia untuk berperan dalam kancah geopolitik dunia, dengan semangat yang membara, "Saatnya anak muda Indonesia menyala di kancah geopolitik dunia! 🔥🔥🔥".
Namun, pernyataan ini menuai beragam reaksi dari netizen yang mencerminkan skeptisisme terhadap kemampuan Indonesia di pentas global.
Kritik Netizen Terhadap Rencana Mediator Prabowo
Sejumlah netizen tidak setuju dengan langkah tersebut, menganggapnya sebagai pemborosan anggaran. Akun "cppspa22" berkomentar, "Prabowo ama gibran ga usah ke luar negeri semua, buang2 duit negara, pake Zoom aja murah!" yang disukai oleh 16 orang.
Sentimen ini sejalan dengan pendapat akun "om_kumis_tebal" yang menyatakan, "Jujur aja, Indonesia sekarang bukan Indonesia di era orla dan orba yang masih punya power dikancah politik global", meraih 35 likes.
Suara Skeptis dari Masyarakat
Lebih jauh lagi, akun "danielmarhaento" mengungkapkan ketidakpuasan yang mendalam, mengatakan, "Saya secara pribadi sudah mati rasa atas pemerintahan kita, Pak Ustadz. Berharap hidayah tapi mereka sendiri terlihat tidak ada upaya mendekatkan diri pada hidayah Allah SWT".
Sementara itu, akun "nabilkbr_" mencurahkan emosinya, "bikin malu aja kontol. kliatan bgt jongos western nya", menunjukkan ketidakpuasan terhadap posisi Indonesia di hadapan Amerika Serikat.
Terakhir, akun "borsalino_insanov" memberikan pandangan tajam, merekomendasikan agar "si pembuat janji 19 juta lapangan kerja itu beserta keluarga, dinasti, antek2 genk solo" dikirim ke luar negeri, menegaskan bahwa keberadaan mereka di dalam negeri tidak membawa manfaat.
Kualitas Diplomasi yang Jadi Sorotan
Dengan banyaknya komentar kritis ini, tampak jelas bahwa masyarakat memiliki harapan tinggi namun skeptis terhadap langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dalam merespons tantangan global.
Secara keseluruhan, reaksi masyarakat menunjukkan bahwa meskipun ada keinginan untuk terlibat dalam diplomasi internasional, masih banyak yang meragukan kemampuan dan niat baik pemerintah saat ini.