
- Harga beras premium di Cilegon melonjak menjadi Rp16.000 per kilogram, lebih tinggi dari harga standar Rp14.500.
- Pemerintah Kota Cilegon meningkatkan pengawasan harga dan stok beras, menarik 22 produk beras yang dijual di atas ketentuan harga.
- Pemerintah juga menyiapkan program subsidi bahan pokok untuk masyarakat rentan, memungkinkan mereka membeli paket kebutuhan dengan harga setengahnya.
Harga beras premium di Cilegon, Banten, saat ini mengalami lonjakan yang cukup signifikan, menembus angka Rp16.000 per kilogram.
Kenaikan harga ini memicu Pemerintah Kota Cilegon untuk lebih ketat dalam mengawasi harga dan ketersediaan beras di pasar tradisional serta ritel modern.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon, Didin S Maulana, menjelaskan bahwa pemantauan harga dan stok beras dilakukan setiap pekan dengan melibatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Polres Cilegon, dan berbagai unsur ketahanan pangan.
Menurut Didin, harga standar beras premium seharusnya berada di kisaran Rp14.500 per kilogram, namun kenyataannya, harga di lapangan telah mencapai Rp16.000 per kilogram.
“Untuk premium, harga standarnya Rp14.500, itu sampai Rp16.000. Untuk medium juga ada kenaikan. Untuk SPHP masih tetap harga standar,” ungkap Didin pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Tidak hanya mengalami kenaikan harga, tim pengawasan juga menemukan bahwa sejumlah produk beras dijual dengan harga yang tidak sesuai ketentuan.
Didin menyebutkan bahwa sekitar 22 produk beras telah ditarik dari pasaran karena harganya yang dinilai terlalu tinggi.
“Itu yang ada 22 kalau tidak salah, ada produk yang ditarik karena tidak sesuai ketentuan, harganya terlalu mahal,” ujarnya.
Pengawasan ini dilakukan di sejumlah lokasi, mulai dari Pasar Kranggot hingga ritel modern seperti Super Indo dan Hypermart, untuk memastikan harga beras tetap terkendali dan ketersediaan pasokan terjaga untuk masyarakat.
Meski harga beras premium merangkak naik, Didin meyakinkan bahwa stok beras di Kota Cilegon masih aman.
Ia menjelaskan bahwa toko-toko besar memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama empat hingga lima hari ke depan.
“Setiap distribusi itu beras mereka simpan untuk pasokan lima hari. Satu toko besar persediaannya sampai lima hari,” kata Didin.
Pemantauan harga dan stok ini akan terus dilakukan guna mengantisipasi gangguan distribusi serta lonjakan harga yang bisa membebani masyarakat.
Selain itu, Pemerintah Kota Cilegon juga menyiapkan program subsidi bahan pokok bagi masyarakat yang rentan, yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Program ini berbeda dari operasi pasar, karena dalam skema subsidi, pemerintah memberikan bantuan langsung untuk paket kebutuhan pokok seperti beras dan minyak, sehingga masyarakat hanya perlu membayar setengah dari harga normal paket tersebut.
“Kalau operasi pasar kan harganya murahnya sedikit. Kalau ini disubsidi, misalnya harga paket beras, minyak dan segala macam Rp100.000, masyarakat cuma beli setengahnya,” ujar Didin, menegaskan komitmen pemerintah untuk membantu warganya.
Dengan langkah-langkah ini, harapannya adalah agar masyarakat Cilegon dapat terus mendapatkan akses yang baik terhadap kebutuhan pokok di tengah fluktuasi harga yang terjadi.
Sumber: rubrikbanten.com (02/10/2026)