Program Kolase Cilegon Ajak Siswa Peduli Lingkungan dengan 85 Karya Seni dari Sampah

📌 Ringkasan Berita:
  • Program KOLASE di Cilegon melibatkan sekitar 85 sekolah untuk mengelola sampah dan peduli lingkungan.
  • SMP Negeri 3 Cilegon menjalankan program ini dengan dukungan dari Bank Sampah Menderma, memberikan edukasi tentang nilai ekonomi dari sampah.
  • Program KOLASE bertujuan membangun kesadaran siswa tanpa paksaan, sekaligus mendukung kebutuhan sosial dan kegiatan rekreasi kelas.

Program KOLASE di Cilegon lagi hype banget, nih, karena udah melibatkan banyak sekolah dalam upaya mengelola sampah dan peduli lingkungan.

Partisipasi Sekolah yang Menggembirakan

Melansir pemberitaan dari bantenraya.com pada 22/08/2026, sudah sekitar 85 sekolah di Kota Cilegon ikut serta dalam program KOLASE.

Siswa-siswi yang terlibat dalam program ini pun menyambut baik inisiatif tersebut.

Program KOLASE bertujuan untuk mengurangi produksi sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) dengan cara mengumpulkan sampah di Bank Sampah.

Selain mengurangi sampah, siswa-siswi juga dapet keuntungan ekonomi dari sampah yang mereka kumpulin, dan program ini membantu membentuk karakter generasi muda yang peduli lingkungan.

Kegiatan di SMP Negeri 3 Cilegon

Pada Jumat, 21 Agustus 2026, SMP Negeri 3 Cilegon menjalankan program Kolase Batch II yang bekerja sama dengan Bank Sampah Menderma.

Sampah yang dikumpulkan oleh siswa-siswi ditimbang oleh petugas dari Bank Sampah.

Pada acara penimbangan ini, hadir juga perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon dan evaluator dari Bank Sampah mitra DLH.

Kepala SMP Negeri 3 Cilegon, Naziah Tamaen, sangat mendukung Program KOLASE yang digagas oleh Chandra Asri dan Pemkot Cilegon.

“Dari kami, kenapa tertarik dengan kolase ini, yang pertama itu adalah kami adalah sekolah adiwiyata, peduli dengan lingkungan, terus meminimalisir plastik, dan minyak. Akhirnya kami tertarik dengan KOLASE. Itu ada edukasinya dan penanaman karakter pada peserta didik, bahwa sampah yang selama ini dibuang-buang tidak berarti, ternyata juga ada nilai ekonominya,” kata Naziah.

Dia juga menjelaskan bahwa SMP Negeri 3 Cilegon bekerja sama dengan Bank Sampah Menderma dari Kelurahan Gerem untuk menyosialisasikan program ini kepada siswa-siswi.

“Akhirnya kami bekerja sama dengan Bank Sampah, untuk menyosialisasikan kepada peserta didik kami untuk mengikuti KOLASE sampah ini. Kami menyosialisasikan juga dengan anak-anak kami bahwa yang namanya sampah itu ada nilai ekonomi. Itu mohon dikumpulkan dan dananya itu untuk kebutuhan kelas masing-masing. Transfer atas nama kelas, bukan pribadi. Nah, dana yang dari programan sampah itu digunakan untuk kebutuhan kelas,” katanya.

Kalau ada kebutuhan sosial di kelas, seperti membantu siswa yang sakit, dana dari program KOLASE juga bisa dipakai.

“Misalkan, anak-anak ada yang keluarganya sakit atau siswanya itu sendiri yang sakit, menengok, atau dengan orang tuanya yang meninggal, yang sedang berduka atau dan sebagainya, dari dana itu (KOLASE),” ungkapnya.

Jika tidak ada pengeluaran untuk dana sosial, hasil dari KOLASE bisa dipakai untuk kegiatan rekreasi siswa.

“Kemudian kalau dari dalam satu tahun itu ada saldo sisa dari dana sosial, mereka bisa digunakan untuk refreshing gitu, outing class di luar sekolah,” paparnya.

Membangun Kesadaran dan Kepedulian

Naziah menekankan bahwa dalam program KOLASE, tidak ada paksaan untuk ikut serta, tetapi lebih kepada membangun kesadaran siswa.

“Mengumpulkan itu bukan dipaksa ya, karena memang anak-anak itu kan labil, jadi bukan dipaksa. Bukan cuma anak, tapi semua warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru-guru kita ikut menjadi teladan gitu.”

Program ini mendapatkan sambutan positif dari berbagai elemen masyarakat, dan semoga bisa terus berkembang.

Secara keseluruhan, Program KOLASE di Cilegon menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dalam mengelola sampah dan mendidik generasi muda.

Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: bantenraya.com (22/08/2026)