
- Pemerintah Kota Cilegon meluncurkan Program KOLASE Batch ke-3 untuk mengedukasi siswa tentang pengelolaan sampah sejak dini.
- Program ini melibatkan 60 sekolah dan ditargetkan menjangkau 120 sekolah, dengan partisipasi masyarakat dan bank sampah untuk pemberdayaan lokal.
- Sampai saat ini, KOLASE telah berhasil mengurangi 35 ton sampah dan mengumpulkan tabungan sekitar Rp58 juta dari hasil penjualan sampah yang dipilah oleh siswa.
Pemerintah Kota Cilegon lagi-lagi aktif dalam mengelola sampah lewat Program Kolaborasi Kelola Sampah Ekonomi Sirkular (KOLASE) yang ditujukan untuk sekolah-sekolah.
Program KOLASE Batch ke-3
Melansir pemberitaan dari rubrikbanten.com pada 19/08/2026, program KOLASE Batch ke-3 ini dilaksanakan dengan kegiatan sosialisasi dan penimbangan sampah di SDN Sumampir.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wali Kota Cilegon Robinsar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Sabri Mahyudin, perwakilan industri, pegiat lingkungan, bank sampah, siswa, dan tenaga pendidik.
Wali Kota Cilegon Robinsar menjelaskan bahwa KOLASE adalah langkah konkret pemerintah daerah untuk menanamkan kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini.
Dia menekankan bahwa masalah sampah bukan hanya bisa ditangani di tempat pemrosesan akhir, melainkan harus dimulai dari sumber dengan membiasakan masyarakat untuk memilah dan mengurangi sampah di rumah serta sekolah.
“Alhamdulillah, hari ini kita bersama Dinas Lingkungan Hidup, para pegiat sampah dan Chandra Asri selaku pihak swasta melakukan Program KOLASE dengan melibatkan sekolah-sekolah SD dan SMP di Kota Cilegon. Tujuan utamanya adalah edukasi, bagaimana pengelolaan sampah ini membutuhkan kesadaran,” ujar Robinsar.
Dia menekankan bahwa edukasi adalah poin penting dalam program ini, karena keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya dilihat dari seberapa banyak sampah yang dapat dikurangi.
“Memang tidak bisa hanya dikelola di TPSA, tetapi bagaimana sampah ini harus terpilah dan pengelolaannya dimulai dari hulunya. Karena itu, kesadaran ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita,” katanya.
Robinsar menambahkan bahwa meskipun volume sampah yang terkumpul melalui KOLASE saat ini belum terlalu besar, dampak edukasinya lebih penting untuk membangun kebiasaan baru di kalangan generasi muda.
“Kalau bicara volume, hari ini mungkin belum terlalu masif. Tetapi poin utamanya bukan hanya pada volumenya, melainkan edukasi dan pendidikan tentang pengelolaan sampah, peningkatan kesadaran agar tidak membuang sampah sembarangan, serta memahami mana sampah yang harus dipilah dan dikelola,” ungkapnya.
Dia berharap kebiasaan ini tidak hanya berhenti di sekolah, tapi juga dibawa siswa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Robinsar juga menyebutkan bahwa cakupan Program KOLASE terus diperluas, dari yang awalnya hanya melibatkan lima sekolah, sekarang ditargetkan menjangkau hingga 100 sekolah di Kota Cilegon.
Partisipasi Masyarakat dan Bank Sampah
Sementara itu, Kepala DLH Kota Cilegon Sabri Mahyudin menambahkan bahwa KOLASE tidak hanya melibatkan sekolah, tetapi juga bank sampah dan masyarakat sekitar.
“Dalam program ini kami melibatkan bank sampah yang ada di sekitar lokasi sekolah. Para edukator dan bank sampah ikut terlibat. Jadi, ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat karena kami benar-benar melibatkan masyarakat lokal,” kata Sabri.
Hingga pelaksanaan Batch ke-3, KOLASE telah menjangkau 60 sekolah, dan DLH menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 120 sekolah pada awal September 2026.
Program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi para siswa, dimana sampah yang sudah dipilah bisa dijual dan hasilnya digunakan untuk berbagai kebutuhan sekolah atau kegiatan siswa.
“Hasil dari penjualan sampah juga dimanfaatkan oleh murid-murid. Ada yang digunakan untuk kegiatan nonton bersama, ada yang untuk perjalanan ke luar kota, bahkan ada yang disumbangkan untuk kebutuhan fasilitas sekolah,” ujarnya.
Sabri menyebutkan bahwa selama pelaksanaan Program KOLASE, sekitar 35 ton sampah berhasil direduksi.
Sementara nilai tabungan sampah yang terkumpul mencapai sekitar Rp58 juta, dengan jumlah siswa yang terlibat mencapai 38.000 orang.
“ Kami berharap ke depan, sesuai target yang diberikan oleh Pak Wali, seluruh sekolah yang ada di Kota Cilegon,” ujarnya.
Kesimpulan
Program KOLASE di Cilegon menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di sekolah bisa memberikan dampak positif, baik untuk lingkungan maupun edukasi siswa.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: rubrikbanten.com (19/08/2026)